
Tapanuli Selatan, 19/12/2025., Redmol. Id Bayangkan kita berdiri di Pegunungan, di hulu tempat sungai Batang Toru lahir. Udara sejuk menyapa, pepohonan rimbun menari tertiup angin, dan suara burung bersahutan. Dari hulu inilah air mulai mengalir perlahan, menyusuri lembah-lembah, membentuk sungai yang bukan sekadar membawa air, tapi juga kehidupan bagi seluruh Tapanuli. Sepanjang perjalanan, Batang Toru ditemani anak-anak sungai seperti Aek Garoga, Aek Ngadol, Aek Pahu, Parsariran, Malakkup, dan Sitandiang. Mereka seperti sahabat setia yang menambah debit air dan menjaga keseimbangan alam. Bersama-sama, mereka membentuk nadi kehidupan yang menghidupi masyarakat di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga sebagian Tapanuli Utara, sebelum akhirnya bermuara ke Samudra Hindia. Inilah yang dikenal dengan sebutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batangtoru.
Namun, di balik keindahan ini, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, pada UI GreenMetric Indonesia Awarding 2025 di Muladi Dome, Universitas Diponegoro, Selasa (16/12/2025) menyoroti fakta yang cukup mengkhawatirkan. Deforestasi di Batang Toru sudah begitu parah sehingga bukan sekadar soal hilangnya pepohonan. Nyatanya, Garoga.. Satu desa sampai tersapu banjir dan longsor, meninggalkan warga kehilangan rumah, sawah, bahkan sejarah hidup mereka. DAS Batang Toru memiliki luas sekitar 340.000 hektar. Hutan yang dulu menjadi perisai alam kini menipis, tersisa hanya 38% dari total luasnya. Analisis citra satelit menunjukkan bahwa sekitar 15.000 hektar hutan telah berubah menjadi non-hutan dalam kurun waktu 2009 hingga 2024. Lahan yang dibuka sembarangan, hujan ekstrem, dan tanah yang rapuh membuat risiko bencana semakin nyata. Dan ancamannya tak hanya untuk manusia: orangutan Tapanuli yang langka kini menghadapi habitat yang semakin sempit.
Pemerintah berupaya menanggulangi masalah ini. Tata ruang dievaluasi, kajian lingkungan diperketat, dan perusahaan yang merusak hutan diperiksa. Tapi semua itu ibarat menambal lubang besar di bendungan—usaha besar tetap dibutuhkan agar tragedi serupa tidak terulang. Daerah Aliran Sungai DAS Batang Toru mengingatkan kita dengan cara yang pahit: alam yang rusak tidak pernah diam. Ia memberi tanda lewat banjir, longsor, dan hilangnya kehidupan. Di balik statistik, ada manusia, satwa, dan masa depan lingkungan yang bergantung pada keputusan kita hari ini.
Hutan Batang Toru bukan sekadar pohon dan tanah. Di hulu, hutan tropis yang rimbun menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati khas Sumatera. Orangutan Tapanuli yang langka, harimau Sumatera, beruang madu, rusa sambar, dan tapir Asia hidup berdampingan. Langit di atas hutan dihiasi merak hijau, rangkong gading, dan elang pemangsa. Pohon-pohon meranti, kempas, ulin, dan ramin bukan hanya sumber ekonomi, tapi juga habitat satwa, penahan erosi, dan penyimpan air. Tanpa mereka, Batang Toru tidak akan sama.
Sayangnya, keindahan ini tengah diuji. Penebangan, perkebunan, dan pembangunan mulai mengganggu hutan. Sungai menjadi keruh, tanah cepat tererosi, dan risiko banjir meningkat. Proyek PLTA Batang Toru pun menimbulkan kontroversi karena bisa mengganggu habitat satwa langka. Manusia dan alam sedang tarik-menarik di sini. Kerusakan hutan di hulu langsung dirasakan di hilir: mata pencaharian masyarakat terancam, sungai lebih cepat meluap, dan kualitas air menurun.
DAS Batang Toru kini berada di persimpangan: antara kebutuhan pembangunan dan perlindungan alam. Namun, masih ada harapan. Reboisasi, konservasi mata air, pengelolaan lahan berbasis komunitas, pengawasan pembangunan, hingga ekowisata berkelanjutan bisa menjadi jalan keluar. Dengan langkah bijak, Batang Toru bisa terus mengalir sebagai sumber kehidupan, menjaga keseimbangan ekosistem, dan mendukung kesejahteraan manusia. Menjaga DAS Batang Toru berarti menjaga kehidupan dari hulu hingga hilir. Jika kita mampu merawatnya, sungai ini akan tetap menjadi sahabat bagi generasi mendatang—bukan hanya air yang mengalir, tetapi kehidupan yang terus berdenyut. (IAB)
